RUANG INDONESIA – Malam Lailatul Qadar menjadi momentum penting dalam sejarah Islam. Pada malam itu, Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Pakar tafsir Indonesia, M Quraish Shihab, menjelaskan Lailatul Qadar memiliki makna sebagai malam yang sangat mulia.
“Kata ‘qadr’ berarti kemuliaan, dan juga bermakna ‘sempit’, karena pada malam itu para malaikat turun ke bumi dalam jumlah sangat banyak hingga suasana terasa sempit,” tulis Quraish Shihab dalam tafsirnya, dikutip dari laman NU Jatim, Minggu (23/3/2025).
Selain makna spiritual, Lailatul Qadar juga memiliki tanda-tanda khusus, seperti yang dikatakan oleh Al-Habib Mohammad bin Alawi al-Idrus, bahwa salah satu tandanya adalah turunnya banyak malaikat yang membawa rahmat.
“Malam itu terasa penuh kedamaian, cuaca tidak terlalu panas dan tidak dingin, serta keesokan harinya sinar matahari terlihat lembut,” jelas Habib Alawi, dikutip dari Bincang Syariah.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Qadr, Allah menyebut malam itu lebih baik dari seribu bulan. Keutamaannya juga disampaikan Rasulullah SAW dalam sabda yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu’anha:
“Carilah keutamaan Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Di Indonesia, masyarakat muslim menghidupkan malam-malam ganjil Ramadan dengan iktikaf, tadarus Al-Qur’an, dan memperbanyak doa.
Lailatul Qadar menjadi momen menguatkan harapan dan memperbaiki diri di penghujung Ramadan.
Lailatul Qadar diyakini hadir di malam ganjil antara 21 hingga 29 Ramadan. Namun, ulama mengingatkan, inti dari malam ini bukan menebak tanggal, tetapi menjaga konsistensi ibadah. (Rck).












