Kembali Digelar, Dubes Ngopi Series ke-17 Angkat Tema “Peluang dan Tantangan Indonesia di Kawasan Pasifik dalam Era Prabowo Subianto”

Ruangpojok.co.id – Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) kembali menyelenggarakan Dubes Ngopi Series ke-17.

Kali ini, mengangkat tema “Peluang dan Tantangan Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Pasifik di Bawah Pemerintahan Prabowo Subianto.” 

Pembicara utama pun diisi langsung oleh seorang peneliti senior Australian National University, Hipolitus Y. R. Wangge juga merupakan dosen di Universiti Sains Malaysia.

Pada kesempatan itu, Hipolitus memberikan pandangannya tentang arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo, khususnya dalam menjalin kerja sama dengan negara-negara di kawasan Pasifik. 

“Salah satu fokus yang dibahas adalah peluang Indonesia untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan lingkungan yang lebih berkelanjutan, terutama di bidang kelautan dan perikanan,” ujar Hipolitus dalam siaran pers USNI, dikutip Rabu (11/12/2024).

Menurutnya, perhatian terhadap kondisi lingkungan, kesehatan masyarakat pesisir, dan pengelolaan sumber daya laut perlu ditingkatkan untuk mendukung stabilitas kawasan.

“Dalam lima tahun ke depan, kerja sama ini dapat terus dimaksimalkan oleh Kementerian Luar Negeri dan pihak-pihak terkait. Presiden Prabowo sudah menunjukkan perhatian serius pada isu-isu internasional, yang menjadi modal kuat untuk mengoptimalkan kebijakan luar negeri di kawasan Pasifik,” papar Hipolitus.

Meski volume perdagangan antara Indonesia dan negara-negara Pasifik saat ini masih terbatas, ia menilai ada potensi besar untuk dikembangkan, terutama melalui teknologi sederhana di sektor pertanian.

“Negara-negara di kawasan Pasifik dapat memanfaatkan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi mereka, sementara Indonesia juga dapat memperluas akses pasar untuk produk perikanan dan agrikultur,” jelasnya.

Hipolitus juga mencatat bahwa meskipun belum terlihat pola kebijakan luar negeri baru dari Presiden Prabowo, langkah-langkah awalnya menunjukkan pendekatan yang berbeda.

Selain fokus pada ekonomi, isu-isu konflik dan lingkungan mulai mendapat perhatian, meskipun intensitasnya masih perlu ditingkatkan.

“Pak Prabowo tidak hanya menangani isu ekonomi, tetapi juga isu-isu non-ekonomi seperti kesejahteraan masyarakat di tingkat internasional. Namun, upaya untuk mengatasi ancaman perubahan iklim perlu ditingkatkan, khususnya untuk meminimalkan dampak negatif terhadap masyarakat adat dan lingkungan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Hipolitus mengungkapkan bahwa isu iklim menjadi salah satu fokus dalam pemerintahan Prabowo.

Namun, ia menyoroti bahwa meskipun terdapat dorongan untuk meningkatkan ekonomi, dampak lingkungan yang dihasilkan sering kali berujung negatif, khususnya bagi masyarakat adat yang bergantung pada keberlanjutan ekosistem.

“Pak Prabowo, dari pertemuan di Timur Tengah mengenai degradasi Indonesia, belum menunjukkan perbedaan signifikan atau fokus utama dalam menangani isu iklim. Secara umum, ada upaya ke arah itu, tetapi intensitasnya masih belum cukup. Perlu ada langkah yang lebih serius, terutama dalam menghadapi ancaman perubahan iklim,” imbuhnya.

Selain itu, Hipolitus berharap diskusi semacam ini dapat mendorong kampus-kampus di Indonesia, termasuk USNI, untuk mengembangkan kajian mendalam tentang kawasan Pasifik.

“Kajian tentang Pasifik masih minim di Indonesia. Investasi akademik di bidang ini perlu diperkuat, tidak hanya terkait isu Papua tetapi juga persoalan strategis lain yang memengaruhi stabilitas kawasan,” pungkasnya.

Terakhir, Acara Dubes Ngopi Series diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan wawasan mahasiswa dan akademisi tentang isu-isu internasional, terutama di kawasan Pasifik yang memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan geopolitik Asia Tenggara.[MG]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *