RUANG INDONESIA, BEKASI – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi perhatian publik usai mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp yang membahas rencana kegiatan wisuda dan perpisahan siswa kelas 9 sebuah SMP Islam di wilayah Jatiwaringin, Kota Bekasi.
Dalam unggahan akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Dedi menulis, “Harus pakai Shinra Tensei dari Nagato,” merujuk pada jurus dari karakter anime “Naruto” yang digunakan untuk menghancurkan sesuatu secara drastis. Ungkapan tersebut menyiratkan ketidaksetujuannya terhadap acara tersebut.
Shinra Tensei adalah jurus dalam anime populer Naruto, digunakan oleh karakter bernama Nagato (Pain). Jurus ini memungkinkan pengguna menciptakan gelombang dorongan kuat yang dapat menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Dalam konteks Dedi Mulyadi, ungkapan “Harus pakai Shinra Tensei” adalah sindiran keras—ia mengibaratkan sistem atau kegiatan yang dianggap menyimpang, seperti wisuda komersial di sekolah, perlu “dihancurkan” habis-habisan seperti dalam jurus tersebut.
Tangkapan layar tersebut memuat hasil rapat orang tua murid dengan kepala sekolah dan wali kelas yang menyepakati beberapa kegiatan, seperti foto ijazah, ujian sekolah, acara wisuda di gedung dengan biaya Rp450 ribu, serta tur ke Yogyakarta seharga Rp2 juta.
“Semua pembiayaan terakhir dibayarkan tanggal 25 Mei 2025,” tulis pesan dalam tangkapan layar tersebut.
Komentar Dedi Mulyadi memicu berbagai tanggapan dari warganet. Banyak yang mendukung sikap kritisnya terhadap praktik wisuda di jenjang sekolah dasar dan menengah yang selama ini dinilai membebani orang tua murid secara finansial dan tidak sesuai dengan aturan Kementerian Pendidikan.
Sebagai informasi, Gubernur Jawa Barat telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/KESRA yang memuat arah baru pendidikan berbasis karakter dan kemandirian siswa melalui konsep Gapura Panca Waluya. Konsep ini bertujuan mencetak generasi muda yang cageur, bageur, bener, pinter, singer—atau sehat, baik, benar, pintar, dan cekatan. (Dn)












