RUANG INDONESIA, BEKASI – David Hendradjid Rahardja resmi dilantik oleh Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, sebagai Direktur Utama PT Mitra Patriot (PTMP) pada Selasa pagi (15/7/2025), di Jatisampurna, Kota Bekasi.
Tak butuh waktu lama, David langsung turun ke lapangan menyambangi rumah warga di kawasan Medan Satria untuk mensosialisasikan program unggulan ‘Bank Jelantah’—yakni menukar limbah minyak goreng menjadi rupiah.
Menariknya, dari berbagai janji program yang sempat ia gaungkan sebelum pelantikan—seperti Mitra Mart, Rumah Panggung, Wisata Air, hingga Makan Bergizi Gratis—program ‘Bank Jelantah’ justru tak pernah disebut sebelumnya. Namun, inilah yang justru ia prioritaskan.
Menyikapi hal tersebut, Koordinator Mahasiswa Pemuda Revolusi Indonesia (MPRI), Syahriddin, kembali angkat suara. Pemuda berusia 29 tahun itu secara lantang mengkritisi langkah awal David sebagai Dirut PTMP, yang sejak awal menjanjikan perubahan besar di tubuh BUMD milik Pemkot Bekasi ini.
Syahriddin menyoroti gaya David yang langsung turun ke rumah warga, yang menurutnya mirip dengan pola kampanye calon anggota legislatif.
“Mungkin Pak David lupa, kalau sekarang beliau adalah Dirut BUMD, bukan lagi berkepentingan politik,” ujar Syahriddin, Rabu pagi (16/7/2025).
Pandangan Syahriddin bukan tanpa alasan. Ia mengingatkan bahwa David pernah dua kali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dari dua partai berbeda.
Dugaan bahwa David menjadikan PTMP sebagai panggung politik semakin kuat, menurut Syahriddin, karena dirinya sempat mendengar ‘selentingan’ bahwa David pernah sesumbar ingin menggunakan jabatan Dirut PTMP sebagai batu loncatan politik di Kota Bekasi, mengingat peluangnya di pusat sudah tertutup.
Selain itu, dalam setiap kegiatan yang dilakukan, David selalu didampingi oleh tim media sosial—gaya yang menyerupai tren kampanye kekinian.
Meski begitu, Syahriddin tetap berharap kabar tersebut tidak benar. Namun, jika memang terbukti, ia menyayangkan bila PTMP sebagai BUMD berubah singkatan Badan Usaha Milik David dan hanya dijadikan alat untuk ambisi politik pribadi.
Di sisi lain, Syahriddin juga menilai program ‘Bank Jelantah’ yang diusung David sebagai tidak memiliki akar sejarah di PTMP.
Program ini justru mengingatkannya pada rekam jejak masa lalu David yang sempat menjadi terdakwa kasus pelanggaran pidana Pemilu membagikan minyak goreng ke calon pemilih di daerah Jakarta Utara pada tahun 2019 lalu.
“Waktu itu dia terbukti melakukan money politics, salah satunya dengan bagi-bagi minyak goreng. Kok ya sekarang balik-baliknya ke minyak lagi,” pungkas Syahriddin.
Di tengah sorotan publik atas langkah-langkah awalnya sebagai Direktur Utama PT Mitra Patriot (PTMP), David Hendradjid Rahardja tampak mantap melanjutkan sosialisasi program yang ia gagas sendiri, yakni pengumpulan dan pengolahan minyak jelantah atau minyak goreng bekas.
Program ini, menurut David, menyasar limbah minyak dari rumah tangga, warteg, rumah makan, hingga restoran di seluruh wilayah Kota Bekasi.
Ia mengklaim bahwa minyak jelantah tersebut akan diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan bahkan ditargetkan untuk diekspor ke China.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa minyak jelantah tidak boleh dibuang sembarangan karena bisa mencemari lingkungan. Minyak ini justru memiliki nilai ekonomi setelah diolah dan bisa diekspor ke China,” ujar David di sela sosialisasi ke rumah warga di Kecamatan Medansatria, Kota Bekasi, Selasa (15/7/2025).
Ia juga menyampaikan bahwa aksi ini merupakan upayanya menunjukkan keseriusan kepada Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, bahwa dirinya langsung bekerja pasca dilantik.
Namun langkah David tersebut menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, program ‘Bank Jelantah’ ini tidak pernah disampaikan dalam rangkaian janji sebelum pelantikan, dan diduga dijalankan tanpa koordinasi atau restu resmi dari Pemerintah Kota Bekasi selaku pemegang saham mayoritas PTMP.
Kondisi ini pun memunculkan kritik tajam dan dugaan bahwa BUMD tersebut kini lebih menyerupai “Badan Usaha Milik David” ketimbang milik daerah. (Dn)












