RUANG INDONESIA, BEKASI — Upaya standarisasi pengukuran performa atlet di Indonesia mulai menunjukkan geliat positif. Tesyou Indonesia, salah satu pionir lembaga ukur performa fisik atlet, bersama Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMID) sukses menggelar “Pelatihan Tenaga Keolahragaan Tester Tes Fisik”, yang bisa di katakan, ini adalah pelatihan pertama di Indonesia untuk mencetak penguji tes fisik profesional berbasis standar nasional.
Pelatihan yang berlangsung pada 24–25 April 2026 di Kampus UMID Bekasi ini diikuti oleh 54 peserta dari enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Bali, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Tingginya antusiasme terlihat dari masih adanya 16 calon peserta yang belum dapat bergabung karena keterbatasan kuota.
Kegiatan ini mengacu pada regulasi terbaru, yakni Permenpora Nomor 15 Tahun 2024, yang menekankan pentingnya standar profesional dalam tes dan pengukuran fisik atlet. Hal ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembinaan olahraga nasional secara lebih terukur dan berbasis data.
Founder Tesyou Indonesia, Abi Hasbullah, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pengujian fisik yang kredibel di Indonesia.
“Masih banyak terjadi, tes fisik sering dilakukan tanpa standar SOP harusnya dilakukan oleh seorang Tester Tes Fisik, seperti kurangnya Objektifitas, Valid dan juga Reliabel. Kami ingin mendorong itu. Tester harus punya kompetensi yang jelas, metode yang terukur, dan hasil yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Abi ketika dihubungi pada Sabtu, (25/4/2026).
Ia menambahkan, kehadiran pelatihan ini merupakan respons terhadap kebutuhan nyata di lapangan yang selama ini belum terfasilitasi secara sistematis.
“Kita tidak bisa lagi mengandalkan feeling dalam menilai kondisi atlet. Semua harus berbasis data. Itulah kenapa pelatihan ini kami rancang mengacu pada standar nasional, bahkan menuju standar internasional,” lanjutnya.
Menurut Abi, profesi tester tes fisik memiliki peran krusial dalam mendukung prestasi olahraga, namun selama ini belum mendapat perhatian yang proporsional.
“Tester itu bukan sekadar operator alat. Mereka adalah analis performa. Dari data yang mereka hasilkan, pelatih bisa mengambil keputusan penting terkait program latihan atlet,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa kolaborasi dengan institusi pendidikan menjadi kunci dalam memastikan kualitas pelatihan tetap terjaga.
“Kerja sama dengan kampus seperti Universitas Muhammadiyah Indonesia ini penting, karena kita ingin menggabungkan kekuatan akademik dan praktik lapangan,” katanya.
Lebih lanjut, Abi mengungkapkan bahwa tingginya minat peserta menjadi sinyal kuat bahwa kebutuhan akan sertifikasi dan standarisasi di bidang ini sangat mendesak.
“Peserta datang dari berbagai provinsi, bahkan masih ada yang tidak kebagian slot. Ini menunjukkan bahwa ekosistem tester tes fisik di Indonesia memang sedang mencari arah,” ujarnya.
Ia berharap, pelatihan ini menjadi titik awal terbentuknya jaringan tester profesional yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kami ingin mencetak tester-tester yang nantinya bisa berkontribusi langsung di daerah masing-masing, membantu pembinaan atlet sejak usia dini hingga elite, ke depan, kami akan memperluas pelatihan ini ke berbagai wilayah agar aksesnya lebih merata dan tidak terpusat di satu kota saja,” pungkasnya. (Yd)












