Riset DiRI: 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pernah Curhat ke AI

 

RUANGINDONESIA.ID — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tak hanya dimanfaatkan untuk mencari informasi, tetapi juga menjadi tempat berbagi cerita bagi banyak anak muda.

Riset terbaru Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) mengungkapkan, 59,4 persen Gen Z di Indonesia pernah mencurahkan persoalan pribadinya kepada AI.

Hasil riset tersebut dipaparkan dalam webinar “Beyond the Prompt: Pemahaman Gen Z terhadap Batasan AI dalam Konteks Curhat di AI”, yang digelar pada 15 Juli 2026. Topik yang paling sering dibicarakan kepada AI meliputi pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, dan keluarga.

Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah, mengatakan AI kini menjadi ruang alternatif bagi anak muda untuk mencari masukan atau sekadar didengarkan karena dianggap tidak menghakimi.

“Enam dari sepuluh responden mengaku pernah curhat kepada AI. Banyak yang merasa lebih nyaman karena bisa berbicara dengan bebas tanpa takut dihakimi,” ujar Farabi dalam siaran persnya, dikutip Senin (20/7/2026).

Namun, DiRI mengingatkan adanya risiko yang perlu diperhatikan. Sebanyak 88,7 persen responden percaya AI menyimpan data percakapan, 90,9 persen menilai kebijakan privasi platform AI belum jelas, dan 75,1 persen khawatir data mereka dapat disalahgunakan. Meski demikian, 63,2 persen tetap membagikan cerita pribadi kepada AI.

Peneliti DiRI, Haris Fatwa, menilai fenomena ini menunjukkan masih minimnya ruang aman bagi anak muda untuk bercerita di dunia nyata.

“Gen Z memahami bahwa AI memiliki keterbatasan, tetapi tetap memilihnya sebagai tempat curhat karena dianggap lebih responsif dan tidak menghakimi,” katanya.

Psikolog Sosial, Syurawasti Muhiddin menegaskan AI tidak dapat menggantikan peran tenaga kesehatan mental. Menurutnya, AI hanya dapat menjadi alat pendukung, sementara persoalan psikologis tetap memerlukan penanganan profesional.

Senada dengan itu, Founder Sobat Literasi Indonesia, Nix Hadid Alonzo Permadi mengingatkan masyarakat agar menggunakan AI secara bijak dengan selalu memeriksa kebenaran informasi, memahami potensi bias, serta menjaga keamanan data pribadi.

Melalui riset ini, DiRI mendorong peningkatan literasi digital, khususnya kemampuan berpikir kritis, memahami privasi data, serta menggunakan AI secara etis. AI dinilai dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat, tetapi tidak seharusnya menggantikan dukungan dari keluarga, teman, konselor, maupun tenaga kesehatan mental.[MG]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *