RUANG INDONESIA, BEKASI – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi mencermati potensi dampak kebijakan tarif impor Amerika Serikat terhadap sejumlah komoditas pangan, termasuk kedelai dan kelapa.
Dua bahan pokok ini dinilai cukup rentan, meski saat ini dampaknya belum dirasakan langsung di lapangan.
Kepala Disdagperin Kota Bekasi, Solikhin, mengatakan Indonesia masih bergantung pada impor kedelai, termasuk dari Amerika
“Saya contohkan mungkin harga yang dengan baku kedelai. Karena kita ternyata kan impor ya. Saya belum tahu data detailnya ya. Impor kita dari Amerika,” kata Solikhin dalam keterangannya.
Sementara untuk komoditas kelapa, Bekasi tidak mengimpor dari luar negeri. Namun harga di pasaran masih menunjukkan tren tinggi dan belum turun.
“Kalau harga belum turun itu mungkin saya nggak tahu faktornya apa. Saya belum kaji itu,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi kelapa di Jabodetabek, termasuk Bekasi, masih belum sepenuhnya aman.
“Kalau ini sebenarnya nggak aman juga,” jelasnya.
Meski belum ada lonjakan harga signifikan, Solikhin mengingatkan perlunya antisipasi jika kebijakan tarif impor benar-benar diterapkan dalam skala penuh.
Apalagi, ia menilai banyak rantai pasok industri di Indonesia yang tetap terhubung dengan Amerika.
“Artinya barang-barang factory yang ada di Indonesia juga pasti ada supply chain juga dari Amerika. Jadi pasti berpengaruh,” ungkap Solikhin.
Ia menambahkan bahwa tim pusat, termasuk kementerian dan tokoh nasional, sudah mengupayakan negosiasi ke Amerika Serikat agar Indonesia tidak terdampak langsung. (Rck)












